Industri Otomotif Indonesia Menuju Era Kendaraan Listrik, Sudah Siapkah?

Kenaikan harga bahan bakar minyak, krisis pemanasan global, kelangkaan energi fosil dan belakangan ini ditambah lagi ancaman resesi ekonomi, membuat industri otomotif gencar mengembangkan kendaraan listrik. Dipelopori antara lain oleh pabrikan Tesla yang sejak awal hanya membuat mobil listrik, kini hampir semua merek otomotif menawarkan model kendaraan listriknya sebagai alternatif. Pemerintah di berbagai belahan dunia juga turut memberi insentif bagi kendaraan listrik, termasuk di Indonesia.  

Pemerintah Indonesia mendorong transisi ke kendaraan listrik sebagai strategi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mengurangi polusi udara. Untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan kebijakan (Peraturan Nomor PM 15/2022) untuk mengubah kendaraan konvensional (bertenaga bahan bakar) menjadi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Sementara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan insentif untuk membantu masyarakat membeli kendaraan listrik. Nomor polisi bagi KBLBB juga dibedakan dengan aksen warna biru, sehingga mereka dibebaskan dari peraturan ganjil genap. Kementerian Keuangan memproyeksikan penjualan kendaraan listrik akan menembuh 4 juta unit pada tahun 2035.

sumber: Proyeksi Kementerian Keuangan RI, dalam seminar PEVS Gaikindo di JIExpo, Juli 2022


Masyarakat pun merespon dengan mulai melirik kendaraan listrik. Berdasarkan data wholesales dari Gabungan Kendaraan Bermotor (Gaikindo), penjualan mobil listrik mencapai 2.473 pada tahun 2021, atau meningkat dua kali lipat dari tahun 2020. Lalu Gaikindo juga mengungkapkan, selama periode Januari-Agustus 2022, penjualan mobil listrik mencapai 3.285 unit, tumbuh 48,84 persen (yoy) dibandingkan 2021

Selain pembeli individu, semakin banyak perusahaan atau grup-grup besar mulai memasuki ekosistem kendaraan listrik. Perusahaan transportasi Blue Bird (BIRD) telah memiliki armada 200 mobil listrik yang beroperasi di Jakarta dan Bali, dengan rencana meluncurkan tambahan mobil listrik di Semarang dan kota lainnya. Tahun ini saja, Blue Bird menganggarkan Rp32,5 miliar untuk mobil listrik. 

Sementara itu, Electrum, perusahaan gabungan (Joint Venture) antara PT Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), menargetkan memasok 2 juta sepeda motor listrik. Electrum juga bekerja sama dengan Pertamina dan Gogoro Inc. yang berbasis di Taiwan, untuk meningkatkan infrastruktur EV di Indonesia dan memiliki komitmen untuk memasok EV untuk Gojek, termasuk juga sepeda motor listrik Gesits milik Wika Industri Manufaktur.

Perkembangan pasar mobil listrik menarik minat Astra International (ASII) untuk melakukan pengembangan produksi EV, baik mobil maupun sepeda motor. Prinsipal Astra, Toyota, telah mengumumkan komitmennya untuk memasok lebih dari 30 model EV pada tahun 2030. Pada akhir tahun ini, Astra mencanangkan akan memproduksi mobil listrik hybrid pertamanya.

Transisi menuju kendaraan listrik akan memicu beberapa perubahan mendasar pada industri otomotif, baik bagi pabrikan, pemasok, jaringan penjualan dan purna jualnya. Beberapa area perubahan yang perlu mendapat perhatian para pelaku industri otomotif antara lain pada inovasi, proses, struktur, organisasi/SDM dan teknologi. Dalam hal ini kita bisa mengambil beberapa pembelajaran dari Tesla dan sejumlah pabrikan kendaraan listrik lain di belahan lain dunia, yang kami coba rangkum dalam gambar berikut. 


Jika dianalisa lebih lanjut, kelima area ini pada dasarnya memerlukan teknologi sebagai akselerator perubahan. Sebagai contoh untuk mendorong Inovasi, organisasi perlu membangun wawasan baru dengan memanfaatkan teknologi maha data, yang dipadu dengan visualisasi yang memungkinkan pengambil keputusan bereksperimen dengan berbasis data, tanpa perlu menunggu waktu lama untuk melakukan riset pasar secara konvensional.

Sementara di area Proses – aplikasi yang terintegrasi memungkinkan pelanggan untuk melakukan riset tentang kendaraan yang diinginkan secara daring, lalu melakukan penjadwalan uji kendara dan pemesanan secara luring, Di area Struktur, berbagai aplikasi pendukung kolaborasi kini memungkinkan kerjasama baik internal maupun eksternal, sebagai proses pengambilan keputusan bisa berlangsung lebih cepat. Integrasi data antara pemasok dan pabrikan, maupun pabrikan dengan jaringan layanan, bisa berlangsung secara real time dengan menggunakan teknologi Internet of Things (IoT). 

Organisasi dan sumberdaya manusia pun memerlukan teknologi, agar interaksi yang terbangun semakin personal sehingga kepercayaan akan semakin terbentuk. Kinerja dan talenta karyawan pun perlu terus ditingkatkan melalui aplikasi berbasis intelegensia buatan.  Area Teknologi sudah pasti juga akan bertransformasi dengan perubahan peran para pabrikan dari penyedia produk menjadi penyedia jasa mobilitas (Mobility As A Service) – secara berlangganan. Kendaraan listrik nantinya tidak banyak berbeda dengan gawai kita, yang akan mendapat pembaharuan perangkat lunak secara berkala.

Namun patut diingat sebagaimana proses perubahan besar lainnya yang melibatkan berbagai organisasi, diperlukan juga manajemen perubahan yang efektif. Termasuk di dalamnya menganalisa dampak perubahan dan membuka komunikasi dengan semua pemangku kepentingan, memberikan sosialisasi dan pelatihan yang memadai, dan menyediakan organisasi pendukung selama masa transisi ini.  

Bagi para pelaku industri otomotif di Indonesia, transformasi pasar menjadi mayoritas kendaraan listrik hanya masalah waktu. Bersamaan dengan itu ekspektasi para pelanggan turut bergeser, sesuai dengan tuntutan relationship economy di abad-21 ini: lebih mudah, murah, cepat (kalau bisa instan), menyenangkan dan personal. Sudah siapkah kita?


Belajar Yang Dibayar
by Arini Ireene